Make your own free website on Tripod.com
logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 3 April 2001 Berita Utama  
Line

Pesantren Ma'had Al-Zaytun (2-Habis)

5 Jam Terkumpul Infak Rp 2,5 Miliar

PERTANIAN TERPADU: Di laboratorium dasar inilah para santri dibimbing mahasiswa program pendidikan pertanian terpadu mempelajari berbagai pengetahuan tentang pertanian. (Suara Merdeka/tb-29g)

PADA saat situasi ukhuwah Islamiah carut-marut akibat konflik politik yang tidak kunjung usai, hati saya menjadi sejuk, damai, dan bangga ketika menyaksikan ribuan umat Islam berkumpul memperingati tahun baru 1422 Hijriyah di Ma'had Al Zaytun.

Suasana di pesantren yang mengutamakan toleransi dan kedamaian itu mengharukan. Yang ada hanya bangga atas prestasi sekelompok umat di Dusun Mekarjaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, tersebut. Dusun yang sangat terpencil. Konon, dulu itu tempat jin membuang anak.

Yang istimewa, tamu yang hadir dalam peringatan 1 Muharram itu 5.000 orang. Kendaraan yang masuk hampir 1.000. Semua santri dan pembimbing memakai jas dan berdasi. Tak ada yang bersarung.

Senin 26 Maret 2001, pesantren itu selain memperingati tahun baru Islam juga mengacarakan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin sebagai sarana tambahan untuk para santri, melengkapi masjid yang sudah ada.

Pemandangan pada hari itu, lapangan berstandar olimpiade di lingkungan pondok bagai Terminal Pulogadung. Ratusan bus, kendaraan roda empat dan roda dua memenuhi sela-sela pohon jati, tin, dan zaitun. Pepohonan itu memang diprogram khusus untuk penghijauan dan pelestarian tanaman langka. Diperkirakan 5-10 tahun mendatang Al Zaytun dikelilingi hutan jati.

Panitia dan bagian keamanan sibuk mengatur hilir mudik kendaraan pengantar berisi rombongan yang ingin melihat dari dekat kehebatan pondok yang selama ini hanya diketahui melalui cerita atau koran, radio, dan televisi.

Suasana peletakan batu pertama pembangunan masjid pada hari bersejarah itu sungguh luar bisa. Di panggung raksasa kehadiran para tamu, antara lain beberapa bekas pejabat tinggi negara, tokoh masyarakat, konglomerat, dan artis asal Jakarta, menambah bobot acara siang itu.

Sementara itu ribuan tamu menunggu untuk menyaksikan dari dekat dan berkeliling pondok bersama rombongan.

Rp 2,5 Miliar

Pada akhir acara panitia mengumumkan infak untuk pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin Rp 2,5 miliar. Bukan main! Hanya dalam waktu 5 jam (mulai pukul 08.00 sampai 13.00) Al Zaytun mampu mengundang simpati para donatur untuk menanam ''saham akhirat'' bagi kemajuan pendidikan generasi muda Islam.

Sebagian tamu terharu atas banyaknya infak yang masuk sekaligus membayangkan mereka berinfak memamg untuk investasi pembinaan pendidikan anak-anak gerasi muda agar tak kalah bersaing dari yang lain.

Sulit dibayangkan, sebuah pesantren mengundang tamu hampir 5.000 orang. Bagaimana mengatur tempat tidur bagi tamu yang menginap, parkir kendaraan, tempat duduk, keamanan, dan yang lebih repot lagi melayani konsumsi mereka?

Itulah kehebatan pesantren yang baru memasuki usia ke-4 tahun itu. Prosesi acara peringatan tahun baru Islam di pondok itu benar-benar sukses.

Semua tamu dilayani dengan ramah dan sopan. Semua diberi tanda pengenal dan konsumsi, serta diantar menyaksikan fasilitas pesantren. Pada hari itu ada pameran berbagai makanan, buah, dan oleh-oleh serta majalah terbitan lokal. Memang sulit dibayangkan, bagaimana memberi makan pada ribuan tamu agar mereka tidak antre. Itulah kehebatan nya.

Pada saat yang sama, berkali-kali panitia mengumumkan melalui pengeras suara yang dipasang permanen mengelilingi kompleks pesantren tentang larangan menginjak dan merusak tanaman, larangan merokok, dan membuang sampah sembarangan.

Semua peraturan itu dipatuhi para tamu, sehingga berbagai jenis tanaman berupa jati emas, zaitun, tin, dan jeruk terjaga dan tumbuh subur serta tak satu pun orang merokok.

Lalu, apa sebenarnya yang luar biasa dari Al Zaytun sehingga banyak orang ingin tahu. Juga banyak donatur berlomba-lomba berinfak?

Percaya Diri

Dari luar masyarakat menilai Pesantren ini benar-benar dikelola secara modern, serius, dan profesional. Tampak sekali konsep pendidikan yang diterapkan adalah mewujudkan sistem pesantren komprehensif yang penuh percaya diri, self confidence, serta menerapkan segala ilmu pengetahuan sebagai milik Allah SWT untuk kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.

Al Zaytun didirikan Yayasan Pesantren Indonesia. Ada rencana membangun asrama 12 unit sama-sama lima lantai. Setiap unit bisa menampung 1.700 santri dengan kapasitas setiap kamar 10 anak. Bangunan pendukung berupa dapur, kantin pelajar, kantin tamu, kantor pos, telepon, barber shop, bank, laboratorium, perpustakaan, wisma tamu, masjid, stadion, pabrik makanan ternak, pabrik kompos, arena peternakan, perikanan dan pertanian.

Kurikulum yang diterapkan mengacu ke rangkuman kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan muatan pendidikan kepesantrenan. Waktu pembelajaran ditetapkan dengan sistem semester.

Pesantren itu berjenjang menengah pertama dan menengah atas, semu memerlukan waktu 6 tahun. Dalam perencanaan, Al Zaytun akan mendirikan universitas. Dengan biaya 1.500 dolar AS (Rp 15 juta), santri berhak menempuh 6 tahun pendidikan. Adapun untuk ke perguruan tinggi masih diperhitungkan lagi.

Tenaga guru dibagi menjadi dua bagian. Yaitu guru pengajar (mudaris) dan guru pembimbing (murabbi). Mudaris adalah guru yang mengajar di kelas dengan spesialisasi sesuai bidang studi keahliannya.

Murabbi adalah guru yang tidak mengajar di kelas, tetapi bertugas membimbing santri selama pendidikan di kelas dan di luar kelas. Setiap 10 santri di kamar dibimbing seorang pembimbing murabbi.

Hafalan Alquran

Salah satu kurikulum yang wajib dicapai setiap santri adalah hafal Alquran dalam waktu 6 tahun. Setelah hafal Juz Amma (syarat minimal) dilanjutkan Al Baqarah dan seterusnya. Dalam satu hari anak menghafal dua kali. Yakni setelah salat subuh selama 30 menit dan setelah salat magrib selama 45 menit.

Hafalan Alquran dicatat secara tertib oleh murabbi masing-masing. Jadi tak ada satu pun perkembangan hafalan santri yang tak terkontrol.

Berbeda dari sejumlah pesantren yang masih menoleransi santri atau kiai merokok, di Al Zaytun rokok adalah barang terlarang bagi siapa pun. Bukan hanya merokok. Para santri sebelum masuk pun harus melalui tes bebas narkoba. Merokok dan narkoba ternyata berkaitan.

''Semua pencandu narkoba memulai dari merokok,'' kata seorang mudaris .

Yang lucu dan menarik, mencari karyawan yang mau menghentikan kebiasaan merokok ternyata tidak gampang.

Ketika ada sejumlah orang mempermasalahkan mengapa tenaga kerja Al Zaytun kebanyakan dari luar, penyebabnya ternyata tenaga lokal tak bersedia meninggalkan kebiasaan rokok.

Kerja Sama Inggris

Pemimpin pondok menuturkan cita-cita Ma'had Al Zaytun memang tidak hanya membangun negeri Indonesia, namun lebih besar dari itu. Yakni ingin ikut serta membangun dunia. Karena itu sejumlah langkah dilakukan. Antara lain berhubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri.

Di bidang ini pondok membentuk divisi hubungan internasional. Setelah enam bulan berjalan, Al Zaytun saat ini berhasil menandatangani lebih dari 100 nota kesepahaman dengan berbagai lembaga pendidikan internasional.

Hubungan dengan luar negeri sangat bermanfaat. Sebab kini bukan hanya diperbolehkan menyelenggarakan pendidikan bidang studi, melainkan juga berhak menyelenggarakan ujian untuk memperoleh ijazah, serifikat, atau diploma yang berakreditasi internasional.

Dari 100 nota kesepahaman yang ditandatangani Inggris menempati urutan pertama dengan 80 lembaga pendidikan. Disusul New Zaeland (32), Amerika Serikat (28), Australia (27), dan Jerman (9).

Sisi lain kisah kemegahan dan kesuksesan Al Zaytun adalah perlunya program sosialisasi antara santri dan masyarakat sekitar agar tidak menjadi menara gading.

Sebab, kebanyakan santri, tenaga kerja, dan guru dari luar daerah sehingga hubungan antara pesantren dan masyarakat sekitarnya sangat jauh.

Dampak positif memperhatikan dan mendekati lingkungan, jika terjadi kesalahpahaman dengan Ma'had sangat mudah menyelesaikannya.

Karena para siswa ditempa dan diformat untuk serbaenak, muncul kekhawatiran mereka bakal memiliki sombong berkepanjangan. Lebih dari itu, mereka tak dekat lagi dengan orang tua masing-masing. Bahkan bisa mengabaikan nasihat orang tua, alias berani pada mereka. (Thobari HR-Agus FY-29g)



Copyright© 1996 SUARA MERDEKA