Make your own free website on Tripod.com

Mengenal

MA’HAD AL-ZAYTUN

Pusat Pendidikan dan Pusat pengembangan budaya toleransi  serta pengembangan budaya perdamaian  

Introduksi

         Ma’had Al-Zaytun terletak di Kabupaten Indramayu, lebih kurang 3,5 (tiga setengah) jam perjalanan darat dengan menggunakan mobil dan 2 (dua) jam jika menggunakan kereta dari Jakarta. Dikelola oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI),yang secara institutional didirikan pada tahun 1994 dihadapan Notaris Ny.Li Rokayah Sulaeman SH, Notaris Di Dati II Subang pada tanggal 25 Januari, dengan akta notaries Nomor  61, dan  secara resmi dibuka sebagai lembaga pendidikan formal oleh Prof.Dr.Ing. Haji B.J.Habibie Presiden Indonesia, pada hari Jumat tanggal 27 August 1999, sangat wajar dikemudian hari banyak pihak yang mengkaitkan Ma’had ini dengan Presiden Habibie

         Sekalipun sebagai pendatang baru, akan tetapi Ma’had Al-Zaytun telah menjadi Institusi pendidikan alternatif yang amat diminati. bukan saja karena keindahan dan kebersihan kampusnya, akan tetapi juga karena system pendidikan yang terapkannya, hal ini terbukti apapun ungkapan sumbang terhadap Ma’had Al-Zaytun dari waktu ke waktu sejak diresmikannya selalu mendapatkan murid/santri melebihi kapasitas muat yang sedang dibangun, sementara banyak Pondok Pesantren yang jauh lebih tua umurnya berada jauh peringkatnya dari Ma’had Al-Zaytun

Lokasi

         Kampus Ma’had Al-Zaytun tepatnya terletak di sebuah kawasan yang amat jauh dari keramaian kota, Desa Mekarjaya, Kecamatan Haurgeulis, Dati II Indramayu, menempati tanah wakaf dari berbagai kalangan Ummat islam bangsa Indonesia, seluas 1400 hektar, 200 hektar dipergunakan sebagai kawasan Kampus Ma’had Al-Zaytun, sedang sisanya 1200 hektar dipergunakan sebagai sarana pendukung pembelajaran diberbagai bidang, antara lain, Aquakultur/perikanan,Hortikultur,Industri makanan ternak,unit peternakan,industri kecil dan lain lain

Pemanfaatan Lahan

         Diatas tanah seluas tersebut datas, kini telah termanfaatkan untuk berbagai upaya positif yang mendatangkan profit dan menjadi salah satu sumber pembiayaan Ma’had Al-Zaytun, misalnya :

        1.     Lahan tanaman Jati emas.Jati emas yang kini sudah tertanam di Komplek Kampus Ma’had Al-Zaytun, kurang lebih 500.000 batang , dimana sebagian besar dari pohon jati emas tersebut telah dibeli oleh donatur dengan harga Rp. 5000.000,- perpohon

        2.     Lahan peternakan, dimana dipelihara berbagai jenis hewan, antara lain, domba, sapi pedaging, sapi perah,  unggas, dan juga hewan peliharaan lain, yang kesemuanya menjadi salah satu sumber penghasilan Ma’had Al-Zaytun

         3.     Lahan perkebunan dan pertanian, yang saat ini ditanami tanaman komersial, yaitu ,jagung manis, dan jeruk siam garut, yang sudah muali berbuah dan sudah berang tentu akan mendatangkan hasil yang cukup besar bagi Ma’had Al-Zaytun

         Pengerjaan aktifitas agrobusiness tersebut diatas, seperti halnya dengan semua aktifitas pembangunan Ma’had Al-Zaytun, secara keseluruhan dilaksanakan oleh team  

         Ditentang kesempatan kerja dengan adanya Ma’had Al-Zaytun dan partisipasi masyarakat tempatan, banyak pihak yang menjadikannya sebagai sasaran kritik dan hujatan bahkan dijadikannya sebagai umpan fitnah agar masyarakat setempat terkecoh dan kemudian membuat ulah yang merugikan Ma’had Al-Zaytun, tanpa mereka sadari bahwa sesungguhnya sejak awal pengelola Ma’had Al-Zaytun sudah memberikan kesempatan bahkan sampai kini, yaitu dibidang yang diminati serta dikuasai pelaksanaanya, misalnya saja penggarapan sawah sawah milik Ma’had Al-Zaytun

         Sementara itu Syaykh A.S Panji Gumilang secara tartil telah menyerukan kepada seluruh jajaran exponent yayasan Pesantren Indonesia Ma’had Al-Zaytun, untuk ikut serta berpartisipasi terhadap pelaksanaan pembangunan desa Mekarjaya dimana Ma’had Al-Zaytun berada, implementasi dari seruan tersebut telahpun dilaksanakan dengan keikut sertaan aktif pihak Ma’had dalam apa yang disebut sebagai “Badan Pembangunan Desa Mekarjaya”, dan secara periodic rapat-rapat pengurusnya dilaksanakan di kampus ma’had Al-Zaytun (lihat majalah Al-Zaytun edisi Agustus 2001)

         Hasil dari rapat-rapat penggdokan rancangan pembangunan desa Mekarjaya, maka dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan proyek pertamanya, yaitu:

1.     Pembangunan balai desa Mekarjaya

2.     Pembangunan Jalan dengan kualitas yang sama dengan yang ada didalam kampus, sepanjang 5 km

3.     Penertiban adminsitarsi pemerintahan desa Mekarjaya

         Konstribusi Ma’had Al-zaytun terhadap masyarakat sekelilingnya, juga amat jelas dirasakan, karena hampir keseluruhan Karyawan Ma’had ditempatkan dirumah-rumah penduduk sekecamatan Haurgeulis, sehingga dalam satu tahun milyaran rupiah yang disumbangkan kepada masyarakat,belum lagi dana yang dikeluarkan oleh keluarga karyawan untuk belanja kebutuhan hidup se-hari hari

        Jika kemudian terdapat fitnah yang berkaitan dengan kealpaan Ma’had Al-zaytun terhadap lingkungan,maka semua itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak berdasar

         Secara lebih luas pula Ma’had Al-Zaytun telah memberikan konstribusinya pada perekonomian nasional, walau barangkali tidak terlalu besar, dan jika membandingkan Ma’had Al-Zaytun dengan pesantren dan atau lembaga pendidikan lain di Indonesia,maka sekalipun masih baru, lembaga ini lebih unggul konstribusi sosialnya terhadap lingkungan baik skala kecil maupun besar, salah satu contoh kongkritnya adalah, bahwa Ma’had Al-Zaytun setiap bulan telah memberikan sumbangsihnya kepada negara berupa pajak PPN setidaknya sejumlah antara Rp. 1 – 2 milyard